Perkebunan Sawit Sebagai Komoditas yang Menjanjikan

Perkebunan Kelapa Sawit merupakan komoditas yang menjanjikan. Karena tanaman tersebut merupakan tanaman industri, di mana minyak yang dihasilkan dari buah kelapa sawit dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal. Misalnya, untuk pembuatan minyak goreng, makanan, dan yang lainnya. Maka dari itu, bisnis kelapa sawit tidak dapat diremehkan.

Bagaimana Perkembangan Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia?

kebun sawit

Sektor perkebunan sawit beserta industri minyak sawit merupakan lahan strategis dalam membangun bisnis. Selain itu, hal tersebut  juga memberikan sumbangsih yang cukup besar bagi perekonomian, khususnya di Indonesia.

Tercatat pada tahun 2017 oleh Kementan (Kementrian Pertanian) bahwa produksi crude palm oil ( CPO) atau minyak kelapa sawit telah mencapai sebesar 37,8 juta ton CPO dengan luas perkebunan sawit saat ini mencapai 14,03 juta hektar. 40% di antaranya merupakan perkebunan rakyat.

Syarat Penanaman Kelapa Sawit

syarat penanaman kelapa sawit

Untuk mengolah lahan perkebunan kelapa sawit, tentu terdapat beberapa syarat penanaman yang mesti di perhatikan supaya tanaman dapat berkembang dengan baik. Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan:

1. Iklim dan Penyinaran Matahari

Pertumbuhan tanaman kelapa sawit di Sumatera Utara sangat baik. Hal itu dikarenakan iklim di sana sesuai. Selain itu lama penyinaran matahari yang tinggi dan curah hujan di sana sangat cocok untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit. Lama penyinaran matahari yang baik untuk kelapa sawit adalah 7-5 jam dalam sehari.

2. Suhu

Selanjutnya, faktor yang tak kalah penting untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil kelapa sawit adalah suhu. Suhu rata-rata tahunan daerah-daerah pertanaman kelapa sawit berada antara 25-27 derajat celsius. Dalam hal ini pohon sawit tidak baik ditanam di daerah yang bersuhu rendah karena dapat membuat tandan bunga tidak merata.

3. Curah hujan dan kelembapan

Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh dengan di daerah tropis, dataran rendah yang panas, dan lembab. Curah hujan yang baik untuk adalah sekitar 2.500-3.000 mm per tahun yang turun merata sepanjang tahun. Daerah pertanaman yang ideal untuk bertanam kelapa sawit adalah dataran rendah yakni antara 200-400 mdpl. Jika di tanam di tempat dengan ketinggian lebih dari 500 mdpl, maka pertumbuhan kelapa sawit ini akan terhambat dan menyebabkan jumlah produksi yang rendah.

4. Jenis Tanah

Pertumbuhan dan produksi di perkebunan kelapa sawit sangat bergantung pada karakter lingkungan fisik tempat pertanaman kelapa sawit, termasuk juga jenis tanah untuk budidaya kelapa sawit.

Ada beberapa jenis tanah  yang baik untuk bertanam kelapa sawit, di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Tanah Latosol => Tanah latosol biasanya terdapat di daerah atau kawasan bersuhu tropis di Indonesia. Tanah latosol terbentuk di daerah yang iklimnya juga cocok untuk tanaman kelapa sawit. Ciri dari tanah jenis ini biasanya berwarna merah, coklat dan kuning.
  • Tanah Aluvial => Jenis tanah aluvial sangat penting untuk tanaman kelapa sawit, akan tetapi kesuburannya disetiap tempat berbeda-beda. Ciri tanah ini hampir mirip dengan tanah latosol, yang mana terbentuk dari hasil pengendapan material halus dari aliran sungai.
  • Tanah Organosol => Merupakan  salah satu jenis tanah yang subur dan terbagi menjadi dua yaitu tanah humus dan tanah gambut. Hingga saat ini baru kelapa sawit yang cocok tumbuh di tanah gambut.

5. Jarak Tanaman

Jarak penanaman pohon sawit juga dapat menentukan perkembangan produksi sawit di perkebunannya. Secara umum, jarak yang baik untuk penananman kelapa sawit adalah sekitar 9 meter dari satu pohon ke pohon yang lainnya. Biasanya, pola yang digunakan adalah pola yang membentuk segitiga sama sisi. Jarak yang tepat akan memberikan ruang pada akar pohon supaya dapat berkembang.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EnglishFrenchIndonesianJapanese