budidaya kelapa sawit

Cara Membudidayakan Tanaman Kelapa Sawit

Mengetahui cara budidaya kelapa sawit memang tidaklah mudah, namun juga tidak sulit. Kelapa sawit atau yang dikenal dengan nama latinya Elaeis guineensis Jacq merupakan tanaman industri yang hingga saat ini banyak dijadikan komoditas. Misalnya, komoditas makanan atau bahan-bahan kosmetik dan juga bahan pembuatan olahan minyak kelapa sawit lainnya.

Baik yang berorientasi pasar lokal maupun global, cara membudidayakan tanaman yang satu ini akan berhadapan dengan tuntutan kualitas produk. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah kelestarian lingkungan juga masalah kuantitas produksi. Maka dari itu, kami menawarkan solusi bagi Anda, agar budidaya kelapa sawit yang sedang anda tekuni saat ini menghasilkan panen yang cepat serta hasil melimpah.

Syarat Pertumbuhan Pohon Kelapa Sawit

syarat tumbuh kelapa sawit

Sebagai komoditas yang tercatat paling tinggi, untuk mengetahui cara budidaya kelapa sawit ini membutuhkan hal-hal yang mesti diperhatikan. Salah satunya adalah tentang syarat pertumbuhan tanaman tersebut. Mengapa hal itu sangatlah penting?

Pertumbuhan kelapa sawit itu sendiri dapat memengaruhi produktivitas, yakni kualitas serta kuantitas buah kelapa sawit yang ditanam supaya menghasilkan minyak yang banyak. Untuk itu, sangat penting bagi para petani sawit untuk mengetahui bagaimana cara agar tanaman sawit tersebut tumbuh subur.

Berikut ini adalah beberapa faktor yang harus diperhatikan oleh para petani kelapa sawit terkait syarat tumbuh tanaman industri yang satu ini:

1. Iklim

Iklim dapat diartikan sebagai kondisi rata-rata cuaca yang keberadaannya didasari karena panjangnya waktu serta lokasi (di bumi) atau pun di planet lain.

Kondisi cuaca yang terjadi di sautu tempat tentu akan memengaruhi penanaman suatu jenis pohon, termasuk pohon kelapa sawit. Untuk itu, para petani wajib mengetahui iklim seperti apa yang bagus untuk budidaya tanaman sawit itu sendiri.

Jumlah waktu rata-rata penyinaran matahari terhadap pohon kelapa sawit adalah selama 5-7 jam per hari.

Pertumbuhan kelapa sawit di Sumatera Utara terkenal baik dikarenakan memiliki iklim yang sesuai untuk tumbuhan industri kelapa sawit. Di lokasi tersebut lama penyinaran matahari serta curah hujan akan tercukupi. Pada umumnya, penyinaran matahari akan turun pada sore atau malam hari.

2. Curah Hujan

Selain iklim, hal curah hujan pun menjadi syarat pertumbuhan yang akan memengaruhi perkembangan tanaman tersebut.

Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh dengan subur di daerah tropik, dataran rendah yang panas, dan lembab. Indonesia adalah salah satu negara tropis yang ikut andil dalam membudidayakan kelapa sawit.

Curah hujan yang baik untuk penanaman sawit ini adalah sekitar 2.500-3.000 mm per tahun yang turun merata sepanjang tahun. Sementara daerah pertanaman yang ideal untuk bertanam kelapa sawit adalah dataran rendah. Ketinggian penanaman yang dibutuhkan setidaknya  antara 200-400 meter di atas permukaan laut.

Pada ketinggian tempat lebih 500 meter di atas permukaan laut, pertumbuhan kelapa sawit ini akan terhambat. Di samping hal itu, produktivitasnya pun tidak akan optimal.

 Hal ini akan lebih baik dengan diikuti kecepatan angin antara 5-6 KM per jam untuk membantu proses penyerbukan tanaman tersebut.

3. Tanah

Hal yang tidak kalah penting untuk memperhatikan pertumbuhan dan produksi tanaman kelapa sawit adalah tanah tempat penanamannya. Ada beberapa jenis tanah  yang baik untuk bertanam kelapa sawit, di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Tanah Latosol => Tanah latosol sangat baik untuk budidaya kelapa sawit. Biasanya terdapat di daerah atau kawasan bersuhu tropis di Indonesia. Ciri dari tanah jenis ini pada umumnya adalah berwarna merah, coklat, dan agak kuning.
  • Tanah Organosol => Adalah salah satu jenis tanah yang memiliki tingkat kesuburan yang cukup tinggi. Tanah jenis ini terbagi lagi menjadi dua jenis, yakni tanah humus dan tanah gambut. Namun, untuk penanaman kelapa sawit sendiri hanya  cocok tumbuh di tanah yang gambut.
  • Tanah Aluvial => Jenis tanah aluvial sangat penting untuk tanaman kelapa sawit, akan tetapi terkadang tingkat kesuburan tanah yang satu ini di satu tempat dengan tempat lainnya berbeda-beda. Ciri tanah ini nyaris menyerupain tanah latosol, di mana terbentuk dari hasil pengendapan material halus dari aliran sungai.

4. Jarak Tanaman

Jarak penanaman pohon sawit juga menjadi syarat pertumbuhan tanaman serta produksi sawit di perkebunannya. Secara umum, jarak penanaman yang baik untuk cara budidaya kelapa sawit adalah sekitar 9 meter dari satu pohon ke pohon yang lainnya.

Biasanya, pola yang digunakan adalah pola yang memiliki bentuk seperti segitiga sama sisi. Jarak yang tepat akan memengaruhi pertumbuhan tanaman tersebut karena dapat memberikan ruang pada akar pohon untuk berkembang.

Pedoman Teknis Tentang Budidaya Kelapa Sawit

teknis budidaya kelapa sawit

Untuk menghasilkan biji kelapa sawit yang berkualitas dan sesuai dengan standar, hal selanjutnya yang mesti dikuasai oleh para petani adalah pedoman teknis penanamannya. Pedoman tersebut bisa dilakukan dari melakukan cara pembibitan, mengetahui ciri bibit kelapa sawit yang berkualitas, hingga perawatan bibit kelapa sawit dengan benar.

1. Pembibitan  Kalapa Sawit

Bagi para petani sawit, untuk menanam pohon sawit tentu tidak akan sesulit yang dibanyangkan. Pada umumnya, cara budidaya kelapa sawit itu sendiri pun hampir sama dengan tanaman lainnya. Untuk itu, para petani harus paham bagaimana menemukan bibit sawit unggul.

Memilih bibit kelapa sawit unggul merupakan hal yang sangat penting untuk bisa menghasilkan buah kelapa sawit dengan kualitas yang baik.

Berikut ini adalah beberapa ciri bibit sawit yang unggul:

  • Teruji di lembaga Pusat Penelitian Kelapa Sawit.
  • Berasal dari Kecambah Biji Kecil.
  • Memiliki plumula 1/3 dan radikula 2/3.
  • Tempurungnya licin dan tidak berserat.
  •  Kecambah memiliki ukuran yang seragam.
  • Bebas hama dan penyakit.

Cara pembibitan (penyemaian) tanaman industri yang satu ini dilakukan dengan memasukan kecambah ke dalam polibag berukuran 12×23 atau 15×23 cm.

Tanah yang digunakan sebaiknya berisi  sekitar 1,5-2,0 kg tanah lapisan atas yang telah diayak.

Selanjutnya, kecambah  atau bibit sawit ditanam sedalam 2 cm di dalam polibag berisi tanah tersebut. Tanah di polibag harus selalu lembab. Lalu,  polibag mesti disimpan di bedengan dengan diameter 120 cm. Setelah berumur 3-4 bulan dan berdaun 4-5 helai, bibit pohon itu pun dipindahtanamkan ke tempat lainnya.

2. Pemindahan Bibit Kelapa Sawit

Biasanya, bibit kelapa sawit dari dederan akan dipindahkan ke dalam polibag 40×50 cm setebal 0,11 mm yang berisi 15-30 kg tanah lapisan atas yang diayak seperti sebelumnya. Akan tetapi, sebelum bibit ditanam, siram tanah dengan pupuk sawit POC NASA sebanyak 5 ml atau 0,5 tutup per liter air. Polibag diatur dalam posisi segitiga sama sisi dengan jarak 90×90 cm.

3. Perawatan Bibit Kelapa Sawit

Sebetulnya, pemeliharaan atau perawatan yang diakukan terhadap bibit kelapa sawit ini hampir sama dengan pemeliharaan bibit tanaman lain pada umumnya. Namun, memang ada beberapa hal yang harus lebih diperhatikan.

Tidak hanya itu, dalam melakukan perawatan bibit sawit itu sendiri, harus sering dilakukan pengontrolan sehingga tanaman tidak mudah terserang dengan hama dan penyakit.

Berikut ini adalah beberapa pedoman teknis mengenai perawatan pohon sawit yang harus dilakukan oleh para petani sawit:

  • Melakukan penyiraman 2 kali dalam sehari. Biasanya dilakukan pada pagi dan sore hari.
  • Melakukan penyiangan dengan cara membersihkan gulma atau tanaman liar di sekitar kelapa sawit. Penyiangan biasanya dilakukan 2-3 kali dalam kurun waktu satu bulan atau juga disesuaikan dnegan pertumbuhan pohon sawit.
  • Melakukan seleksi bibit abnormal dan normal setelah pohon ditanam (dilakukan jika pohon sudah mencapai usia 4 dan 9 bulan).
  • Melakukan pemupukan yang rutin dengan menggunakan pupuk yang tepat dengan caraserta dosisnya yang  tepat.

Apabila bibit unggul kelapa sawit telah terpilih, serta telah melakukan pemeliharaan yang tepat pada tanaman, maka hasil panen yang didapatkan pun akan memiliki kualitas yang baik. Selain itu, hal ini juga dapat memengaruhi hasil produksi minyak sawit yang dibutuhkan.

Pemupukan Tanaman Sawit

pemupukan dalam budidaya sawit

1. Cara Pemupukan Kelapa Sawit

Untuk menghasilkan buah kelapa sawit yang memiliki kualitas  baik, maka metode  yang digunakan dalam pemupukan tanamannya juga harus tepat.

Biasanya, para petani kelapa sawit biasanya melakukan beberapa teknik pemupukan yang sering dilakukan.

Apabila hal ini dilakukan dengan keliru, maka hasil produksi kelapa sawit pun tidak akan begitu optimal. Berikut ini adalah beberapa teknik yang paling umum:

1. Metode Tebar

Metode tebar merupakan salah satu teknik pemupukan pada tanaman kelapa sawit.  Pemupukan dengan metode yang satu ini dilakukan dengan cara menebarkan pupuk pada pinggir piringan pohon pada jarak sekitar 0,5 meter dari tanaman muda. Sementara itu, sekitar 1-2,4 meter dari tanaman sawit yang sudah agak tua.

2. Metode Benam

Metode pemupukan selanjutnya yang dapat dilakukan dalah dengan menggunakan metode benam. Penggunaan metode yang satu ini dilakukan dengan cara memberikan pupuk di 4 sampai 6 lubang sekitar piringan pada sekeliling tanaman kelapa sawit. Setelah itu, pupuk dapat dimasukan ke dalamnya sesuai dosis. Lubang kemudian harus ditutup dan biarkan supaya pupuk dapat terserap secara alami.

2. Jenis Pupuk Sawit yang Dapat Digunakan

Pupuk merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam melakukan budidaya kelapa sawit. Hal ini dikarenakan bahwa keberadaan pupuk juga dapat berpengaruh bagi kesuburan tanah serta pada pertumbuhan pohon sawit yang ditanam.

Selain itu, pupuk juga dapat memberikan keseimbangan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman tersebut.

Berikut ini ada;ah beberapa jenis pupuk yang dapat digunakan untuk budidaya kelapa sawit:

1. AERO 810

AERO 810 adalah jenis pupuk organik berbentuk cair. Manfaatnya adalah untuk meningkatkan efektivitas daya kerja pada penyemprotan pestisida organik untuk penangkal hama.

2. Granule Modern

Granule Modern merupakan  pupuk yang sangat bermanfaat untuk memperbaiki kondisi lahan yang sudah rusak serta  meningkatkan kesuburan tanah. Selain itu, Granule Modern ini juga dapat meningkatkan daya tahan tanaman sehingga kualitas dan kuantitas tanaman juga terjamin.

3. Greenstar

Greenstar merupakan satu produk pupuk yang mengandung unsur hara makro dan mikro, serta diperkaya zat pengatur tumbuhnya tanaman.

4. Hormonik

Hormonik merupakan pupuk yang berguna untuk memicu pertumbuhan tunas tanaman dengan cara mengurangi kerontokan bunga dan buah pada pohon sawit.

5. Natural BVR

Natural BVR  berfungsi untuk mengendalikan hama serta berbagai penyakit pada tanaman Kelebihan dari jenis pupuk ini adalah aman digunakan serta ramah lingkungan.

6. POC NASA

POC NASA  mengandung berbagai mineral penting yang dibutuhkan pohon sawit.

7. Power Nutrition

Power Nutrition berfungsi untuk pertumbuhan, terutama dalam meningkatkan kuantitas buah kelapa sawit. Selain itu pupuk yang satu ini pun mampu meningkatkan daya tahan tanaman supaya tanaman bisa lebih lama tumbuh.

8. Pestona

Pestona merupakan salah satu pupuk organik yang berfungsi dalam pengendalian hama tanaman dengan cara mengurangi nafsu makan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

Semntara itu, pada saat pembibitan, pemupukan bibit kelapa sawit bisa dilakukan dengan cara di bawah ini:

  • Pupuk Makro => 15-15-6-4 pada  Minggu ke 2 dan 3 (sebanyak 2 gram); minggu ke 4 dan 5 (sebanyak 4 gram); minggu ke 6 dan 8 (sebanyak 6 gram); minggu ke 10 dan 12 (sebanyak 8 gram). 12-12-17-2 Mingu ke 14, 15, 16 dan 20 (sebanyak 8 gram); Minggu ke 22, 24, 26 dan 28 (sebanyak 12 gram), minggu ke 30, 32, 34 dan 36 (sebanyak 17 gram), minggu ke 38 dan 40 (sebanyak 20 gram). 12-12-17-2 Minggu ke 19 dan 21 (sebanyak 4 gram); minggu ke 23 dan 25 (sebanyak 6 gram); minggu ke 27, 29 dan 31 (sebanyak 8 gram).
  • POC NASA => Mulai minggu ke 1 – 40 (1-2cc/lt air perbibit disiramkan 1-2 minggu sekali). Catatan : Akan Lebih baik pembibitan diselingi atau ditambahSUPERNASA 1-3 kali dengan dosis 1 botol untuk + 400 bibit. 1 botol SUPERNASA diencerkan dalam 4 liter (4000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman

 

Teknis Penanaman Pohon Kelapa Sawit

penanaman sawit

Hal selanjutnya yang harus diketahui oleh para petani kelapa sawit untuk pengembangan serta budidaya kelapa sawit itu sendiri adalah mengetahui tentang teknis penanamannya.

1. Pembuatan Lubang

Penanaman Kelapa Sawit dapat dimulai dengan cara membuat lubang untuk menumbuhkan pohon sawit tersebut. Pembuatan lubang Ttnam dapat yang dilakukan beberapa hari sebelum proses tanam.

Pohon kelapa sawit dapat ditanam dengan lubang yang memiliki ukuran sekitar 50×40 cm dengan dalam 40 cm.

Sisa galian tanah atas (20 cm) kemudian harus dipisahkan dari tanah bawah. Sementara itu, jarak lubang satu ke lubang lainnya adalah sekitar 9x9x9 m.

Tanaman kelapa sawit juga dapat ditanam di daerah atau areal berbukit. Hal itu dilakukan dengan cara membuat teras melingkari bukit dan lubang dibuat dengan jarak sekita 1,5 m dari sisi lereng bukit.

2. Cara Penanaman Bibit Kelapa Sawit

Cara penanaman bibit kelapa sawit dapat dilakukan pada awal musim hujan. Tepatnya setelah hujan turun dengan teratur pada musim tersebut. Sebaiknya, sehari sebelum melakukan proses tanam, bibit sawit yang berada pada pada polibag harus disiram.

Setelah bibit disiram, Anda dapat melepaskan plastik polybag, kemudian memasukkan bibit ke dalam lubang yang telah dibuat.

Jika bibit sudah dimasukan ke dalam lubang, maka Anda dapat menaburkan pupuk Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan dalam pupuk kandang selama  lebih dari satu minggu di sekitar perakaran tanaman.

Setelah diberi pupuk, bibit dapat segera ditimbun dengan galian tanah atas. Lalu, bisa dilanjutkan dengan ccara menyiramkan POC NASA secara merata dengan dosis ± 5-10 ml per liter air pada setiap pohon.  Selain disiram, Adan juga dapat melakukannya dengan cara disemprot dengan dosis 3-4 tutup per tangki.

Nemun, hasil akan lebih bagus jika menggunakan pupuk SUPERNASA. Adapun cara penggunaan SUPERNASA adalah sebagai berikut:

  • 1 botol SUPERNASA diencerkan  dalam 2 liter 2000 ml) air dijadikan larutan induk.
  • Kemudian setiap 1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman setiap pohon.

 

Pemeliharaan Tanaman Sawit

pemeliharaan sawit

Cara budidaya kelapa sawit yang harus diperhatiakn selanjutnya adalah dengan melakukan pemeliharaan tanaman sawit yang sudah di tanam. Untuk itu, selama budidaya kelapa sawit, para petani sawit haru melakukan beberapa hal di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Penyulaman dan Penjarangan

Penyulama dan penjarangan pada pohon sawit yang sudah mati haru dilakukan supaya pertumbuhan tanaman bisa berlangsung secara optimal. Hal ini bisa dilakukan dengan cara menyulam tanaman sawit yang telah mati dengan bibit berumur 10-14 bulan.

Penyulaman dan penjarangan tersebut dilakukan untuk populasi pohon kelapa sawit di perkebunan sekitar 1 hektar. Pohon yang disulam serta dijarang sebaiknya ada lebih dari sekitar 135 sampai dengan 145 pohon agar tidak ada persaingan sinar matahari.

2. Penyiangan Tanah

Hal selanjutnya yang dapat dilakukan sebagai bentuk pemeliharaan tanaman sawit adalah dengan cara penyiangan tanah di sekitar pohon harus bersih dari gulma.

3. Pemupukan Kelapa Sawit

Sementara tadi telah dijelaskan cara pemupukan bibit sawit dan pada saat penanaman, para petani sawit juga harus tahu cara pemupukan pohon sawit yang sudah tumbuh di tanahnya secara langsung. Maka dari itu beberapa hal yang mesti dilakukan adalah mengikuti prosedur berikut ini:

    • Pemberian Pupuk Makro Urea => Dilakukan pada bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 dan 36. Selanjutnya dilakukan pada pulan ke 42, 48, 54, 60 dan seterusnya. Dosisi yang diberikan untuk pupuk ini adalah sebanyak 225 kg/ha hingga 1000 kg/ha
    • Pupuk TSP => Dilakukan pada bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 dan 36. Selanjutnya dapat dilakukan pada bulan ke 48 dan 60. Dosis pupuk yang diberikan adalah sekitar 115 kg/ha sampai dengan 750 kg/ha.
    • MOP/KCl => Dilakukan pada bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 dan 36. Selanjutnya dilakukan pada bulan ke 42, 48, 54, 60 dan seterusnya. Dosis pupuk yang diberikan 200 kg/ha sampai dengan 1200 kg/ha.
    • Kieserite => Dilakukan pada bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 dan 36. Selanjutnya dilakukan pada bulan ke 42, 48, 54, 60 dan seterusnya. Dosis pupuk yang diberikan adalah sekitar 75 kg/ha sampai dengan 600 kg/ha.
    • Borax => Diberikan pada bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 dan 36. Selanjutnya diberikan pada bulan ke 42, 48, 54, 60 dan seterusnya. Dosis pupuk yang diberikan adalah sekitar 20 kg/ha sampai dengan 40 kg/ha.

 

Untuk dipahami, bahwa pemberian pupuk pertama sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan, yaitu sekitar bulan September sampai dengan bulan Oktober. Juga dapat dilakukan di akhir musim hujan, yaitu sekitar Maret sampai dengan April.

Sementara itu, POC NASA dapat diberikan mulai awal tanam, yaitu sekitar 0-36 bulat dengan dosis 2-3 tutup yang telah diencerkan secukupnya. Kemudian, pupuk tersebut harus disiramkan sekitar pangkal batang, tepatnya setiap 4 hingga 5 bulan sekali. Selanjutnya, untuk pohon sawit berusia lebih dari 36 bulan, dosisnya bisa ditambah sebanyak 3 hingga 4 tutup dengan diencerkan secukupnya. Lalu, disiramkan pada pohon kelapa sawit di sekitar pangkal batang, tepatnya setiap 3 sampai dengan 4 bulan sekali.

Jika pohon kelapa sawit yang sudah produksi namun dari awal sudah tidak memakai pupuk POC NASA, maka dapat dilakukan dengan takaran dosis:

  • Tahap 1 => Aplikasikan 3 – 4 kali berturut-turut dengan interval 1-2 bln dengan Dosis 3-4 tutup/ pohon
  • Tahap 2 => Aplikasikan setiap 3-4 bulan sekali. Dosis 3-4 tutup/ pohon Catatan: Akan Lebih baik pemberian diselingi/ditambah SUPERNASA 1-2 kali/tahun dengan dosis 1 botol untuk + 200 tanaman.

 

Apabila tanaman sawit yang sudah produksi atau sudah berbuah maka pupuk yang baik untuk digunakan adalah POWER NUTRITION.

Hal ini dapat berguna dalam meningkatkan pembuahan. Selain itu, pupuk organik POWER NUTRITION adalah pupuk yang diformulasikan secara khusus untuk merangsang pertumbuhan bunga dan meningkatkan pembuahan agar lebih optimal.

POWER NUTRITION itu sendiri dibuat dari berbagai bahan organik alami yang telah diproses secara khusus dengan menggunakan kandungan unsur hara esensial yang sangat dibutuhkan oleh tanaman. Tak hanya itu, pupuk ini juga dapat  meningkatkan produksi buah.

Cara pemakaian pupuk ini adalah dengan menggunakan 3 sendok makan POWER NUTRITION yang dilarutkan ke dalam air. Lalu, larutan tersebut dicampurkan dengan 1/2 tutup pupuk AERO 810 untuk membantu peresapan nutrisi pada akar.

Selanjutnya, laurtan dari kedua pupuk tersebut dapat disiramkan di sekeliling perakaran tanaman. Pemupukan ini sebaiknya dilakukan setiap 3 bulan sekali supaya dapat membuat hasil yang optimal.

4. Pemangkasan Daun

Hal selanjutnya yang dapat dilakukan sebagai upaya pemeliharaan tanaman kelapa sawit adalah pemangkasan daun. Sejauh ini terdapat tiga jenis pemangkasan, di antaranya:

  • Pemangkasan Pasir => Pemangkasan pasir dilakukan dengan cara membuang daun kering, buah pertama atau buah busuk pada saat tanaman berumur 16-20 bulan.
  • Pemangkasan produksi => Pemangkasan produksi dilakukan dengan cara memotong daun yang tumbuhnya saling menumpuk (songgo dua) untuk persiapan panen umur 20-28 bulan.
  • Pemangkasan Pemeliharaan => Pemangkasan Pemeliharaan dilakukan dengan cara membuang daun-daun songgo dua secara rutin sehingga pada pokok tanaman hanya terdapat sejumlah 28-54 helai.

 

5. Kastrasi Bunga

Selanjutnya, pemeliharaan pohon sawit dapat dilakukan dengan memotong bunga-bunga jantan dan betina yang tumbuh pada waktu tanaman berumur 12-20 bulan.

6. Penyerbukan Buatan

Untuk mengoptimalkan jumlah tandan yang berbuah pada cara budidaya kelapa sawit, dapat dibantu penyerbukan buatan oleh manusia atau serangga.

  • Penyerbukan oleh Manusia => Dilakukan saat tanaman berumur 2-7 minggu pada bunga betina yang sedang represif (bunga betina siap untuk diserbuki oleh serbuk sari jantan.

 

Ciri bunga represif adalah kepala putik terbuka, warna kepala putik kemerah-merahan dan berlendir.

Cara penyerbukan yang dapat dilakukan oleh manusia adalah dengan mencampurkan serbuk sari dengan talk murni (dengan skala 1:2). Serbuk sari dapat diambil dari pohon yang baik dan biasanya sudah dipersiapkan di laboratorium. Setelah itu, semprotkan serbuk sari pada kepala putik dengan menggunakan baby duster/puffer.

  • Penyerbukan oleh Serangga => Serangga penyerbuk  bisanya dilakukan oleh Elaeidobius Camerunicus. Biasanya  serangga tersebut selalu tertarik pada bau bunga jantan. Serangga dilepas saat bunga betina sedang represif.

 

Keunggulan cara ini adalah tandan buah lebih besar, bentuk buah lebih sempurna, produksi minyak lebih besar 15% dan produksi inti (minyak inti) meningkat sampai 30%.

Hama dan Penyakit yang Biasa Menyerang Kelapa Sawit

hama pohon kelapa sawit

Dalam cara budidaya kelapa sawit, hama dan penyakit tanaman merupakan salah satu masalah yang harus diatasi dalam penanaman kelapa sawit. Hama kelapa sawit dan penyakitnya dapat menghambat dan memengaruhi pekembangan dan pertumbuhan pohon kelapa sawit.

Tak hanya itu, hal tersebut juga dapat menjadi salah satu penyebab penurunan produktivitas tanaman secara signifikan. Bahkan jika tidak segera diatasi dapat menyebabkan tanaman mati.

1. Jenis Hama Kelapa Sawit

Ada beberapa jenis hama yang dapat memengaruhi perkembangan dan pertumbuhan pohon sawit, di antaranya:

1. Kumbang Tanduk (Orycte Rhinoceros)

Hal yang akan terjadi pada tanaman sawit jika terserang kumbang tanduk adalah dapat menimbulkan penyakit pada tanaman, menyebabkan tanaman busuk, hingga akhirnya tanaman tidak dapat tumbuh kembali atau mati.

2. Ulat Api (Setora Nitens)

Gigitan ulat api jika dibiarkan, hal ini yang menyebabkan daun menjadi kering dan perlahan akan mati. Sehingga, siklus atau transportasi nutrisi dari daun menuju ke bagian pohon sawit pun dapat terhenti.

3. Penggerek Tandan Buah (Tirathaba Mundella)

Penggerek tandan buah akan mengganggu pertumbuhan pohon sawit dengan cara menaruh telur pada bagian tandan buah kelapa sawit.

4. Tungau Merah (Oligonychus)

Tungau merah menganggagu pertumbuhan sawit dengan cara menghisap cairan pada tanaman sawit. Sehingga, tak segala kandungan bermanfaat pada tanaman termasuk klorofil ikut terhisap dan menyebabkan daun menjadi kering.

5. Nematoda (Rhadinaphelenchus Cocophilus)

Serangan yang dihasilkan  oleh nematoda ini dapat menyebabkan daun pohon sawit tidak membuka dan malah akan menggulung. Tak hanya itu, serangan hama nematoda akan memengaruhi warna daun sehingga berubah menjadi kekuningan dan bahkan terlihat kering.

2. Penyakit Tanaman Kelapa Sawit

Hama-hama yang menganggu pertumbuhan tanaman kelapa sawit dapat menyebabkan beberapa penyakit, di antaranya:

  • Penyakit  Root Blast => Penyebabnya adalah Rhizoctonia Lamellifera dan Phythium Sp yang menyrang akar. Gejala: bibit di persemaian mati mendadak, tanaman dewasa layu dan mati, terjadi pembusukan akar. Pengendalian: pembuatan persemaian yang baik, pemberian air irigasi di musim kemarau, penggunaan bibit berumur lebih dari 11 bulan. Pencegahan dengan pengunaan Natural GLIO.
  • Garis Kuning => Disebabkan oleh Fusarium oxysporum. Bagian yang diserang adalah daun. Gejala: bulatan oval berwarna kuning pucat mengelilingi warna coklat pada daun, daun mengering. Pengendalian: inokulasi penyakit pada bibit dan tanaman muda. Pencegahan:  pengunaan Natural GLIO semenjak awal.
  • Dry Basal Rot => Disebabkan karena  Ceratocyctis Paradoxa. Bagian diserang adalah batang. Gejala: pelepah mudah patah, daun membusuk dan kering; daun muda mati dan kering. Pengendalian: adalah dengan menanam bibit yang telah diinokulasi penyakit.

 

Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan.

Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki. Penyemprotan herbisida (untuk gulma) agar lebih efektif dan efisien dapat di campur Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki .

Panen Kelapa Sawit

panen kelapa sawit

Tanaman kelapa sawit dimulai Umur Panen Mulai berbuah setelah 2,5 tahun dan masak 5,5 bulan setelah penyerbukan. Dapat dipanen jika tanaman telah berumur 31 bulan, sedikitnya 60% buah telah matang panen, dari 5 pohon terdapat 1 tandan buah matang panen.

Ciri tandan matang panen adalah sedikitnya ada 5 buah yang lepas/jatuh dari tandan yang beratnya kurang dari 10 kg atau sedikitnya ada 10 buah yang lepas dari tandan yang beratnya 10 kg atau lebih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EnglishFrenchIndonesianJapanese